Skip to content

Sholat di belakang orang yang mendo’akan kebaikan untuk penguasa murtad

Maret 31, 2009

Tanya jawab bersama Asy-Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi
Naskah asli tanya jawab ini bersumber dari situs http://www.almaqdese.com. Kami telah mendownloadnya beserta ratusan karya-karya para da’i mujahid lainnya. Bagi yang berminat silakan hubungi anggota minbar dakwah. Via email: minbar_dakwah@yahoo.co.id.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh,
Syaikh Al-Fadhil,
Apa hukum sholat jum’at dan sholat-sholat lainnya di belakang para imam yang mendoakan kebaikan untuk penguasa murtad? Sungguh banyak fatwa-fatwa yang saya terima dalam masalah ini, dan di mana saya sholat jika keadaan semua atau mayoritas imam dan khatib seperti ini (membela pemerintah murtad)? Jazakumullahu khoiran.

Jawab:
Bismillah, segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kiranya tercurahkan kepada Rasulullah…
Saudaraku Al-Fadhil,
Anda tidak pantas meninggalkan sholat jama’ah kecuali di belakang orang yang menurutmu telah terbukti jatuh kepada kekafiran yang dapat mengeluarkan dari agama. Adapun apabila ia hanya terjatuh dalam kemaksiatan, kebid’ahan, dan sikap lunak (kepada penguasa), hal itu tidak boleh menyebabkan anda meninggalkan sholat jama’ah.
Tentang sikap khotib (pada khuthbah jum’at) yang mendo’akan penguasa murtad agar ia mendapat hidayah sehingga berhukum kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, atau agar ia tertunjuki kepada sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah atau tertunjuki untuk melakukan hal yang baik bagi negara dan rakyat, atau do’a-do’a lain yang tidak termasuk bentuk bantuan kepada thoghut dan undang-undang kufurnya atau termasuk bentuk memberi pertolongan kepadanya untuk mengalahkan kaum muwahhidun (orang-orang yang bertuhid); semua ini masih termasuk perbuatan-perbuatan bid’ah. –belum termasuk kekafiran-penj.
Para ulama menganggap berdo’a di atas mimbar jum’at untuk penguasa muslim yang masih berhukum kepada syari’at Allah termasuk bid’ah yang diada-adakan, dan perbuatan ini belum ada pada generasi-generasi yang memimiliki keutamaan (Shahabat, Tabi’in, dan tabiut-Tabi’in –penj). Lantas, bagaimana kalau yang dido’akan itu adalah para penguasa kafir murtad? (Tentu lebih bid’ah lagi –penj)
Hanya saja, hal tersebut tidak boleh menghalangi untuk sholat jama’ah di belakang imam-imam yang mendo’akan dengan do’a seperti ini, selama do’a itu –sebagaimana yang telah saya katakan- tidak termasuk bentuk bantuan kepada thaghut dan kesyirikannya. Tidak pantas bid’ah seperti ini, yang mana tidak sampai menyebabkan pelakunya kafir, menjadi penghalang untuk sholat berjama’ah serta meremehkannya. Ya, kecuali jika menurutmu telah terbukti dengan bukti yang pasti bahwa imam itu termasuk para loyalis thoghut serta penolongnya; (jika demikian keadaannya) tidak halal melakukan sholat dibelakangnya, karena ia tidak termasuk kaum muslimin –tidak termasuk orang-orang yang baik di antara mereka, bahkan tidak pula termasuk muslimin yang fajir (yang masih diperbolehkan sholat di belakangnya menurut ucapan ahlussunnah tentang sholat di belakang imam yang baik dan fajir).
’Ala kulli hal, kami telah menjawab pertanyaan ini di tempat-tempat lain yang engkau dapati tersebar; seperti jawaban-jawaban kami terhadap pertanyaan-pertanyaan di penjara Sawaqoh. Kami juga punya risalah yang terperinci tentang hal itu dengan judul ”Masajid Adh-Dhirar Wa Hukmu As-Shalah Khalfa Auliya At-Thoghut Wa Nuwwabihi” (Masjid Dhirar dan Hukum Sholat di belakang Loyalis Thoghut dan Para Menterinya). Semoga Allah Ta’ala memudahkan penerbitan risalah itu.
Wassalam….

4 Komentar leave one →
  1. Desember 5, 2009 1:20 pm

    Khalifah Ma’mun tidak merubah syari’at. Seandainya merubah syari’at, Imam Ahmad akan menjadi seperti Ibnu Taimiyah yang memerangi orang-orang Tartar hanya karena masih berhukum kepada Ilyasiq buatan Jenghis Khan, padahal orang-orang Tartar saat itu sudah shalat dan bersyahadat.
    Di samping itu, hujah itu hanya nash Al-Qur’an dan nash hadits, bukan perkataan atau perbuatan fulan dan fulan

  2. Desember 5, 2009 1:16 pm

    Yang dihukumi bid’ah itu bukan mendoakan itu sendiri, tapi menjadikan mimbar jum’at sebagai ajang untuk mendo’akan para penguasa; itu yang dikatakan sebagai bid’ah yang makruh. kalau soal ulama mana yang mengatakan seperti itu,tolong periksa kitab-kitab fiqih dalam soal ini karya ulama salaf tentunya. Bicara soal takfir tentu berisiko. Tapi, kita tidak perlu mempersoalkan orang yang mengkafirkan penguasa saat ini, sebab kekafiran mereka jelas berdasarkan nash Allah yang qath’ie.
    Bukankah sikap loyal kepada orang kafir adalah kekafiran?
    Bukankah mengganti hukum Allah dengan hukum ciptaan manusia adalah kekafiran?
    itulah sebagian pintu-pintu kekafiran yang dimasuki penguasa.
    Soal mendo’akan penguasa, itu masalah lain. Mereka secara hukum syar’ie adalah orang-orang murtad, namun kita boleh mendo’akan agar mereka bertaubat dan kembali kepada Islam. Hal ini sebagaimana Rasulullah Saw. yang mendo’akan agar Umar mendapat hidayah.

  3. sandi permalink
    Oktober 7, 2009 6:24 am

    assalaamu’alaykum..
    pernahkah kita melihat kisah imam ahmad dengan khalifah al ma’mun?
    khalifah mengatakan bahwa al quran itu mahluk, bukan kalamullah. padahal al imam al hafizh abu bakar al humaidi-pembesar salafush shalih- mengatakan hal itu adalah kekafiran. imam ahmad pada saat itu tidak pernah menfatwakan bahwa khalifah adalah seorang kafir, padahal imam ahmad disiksa, dipenjara, dan beliau telah ikut menegakkan iqomatul hujjah kepada penguasa tersebut dan antek2nya…
    renungkan cerita ini, dan tanyakan pada diri kita,
    ayna nahnu min akhlaqis salaaf????????

  4. April 20, 2009 5:47 pm

    Assalamu ‘alaikum.. Akhi…terus semangat dan sebar kebaikan dimanapun berada…agar umat ini bangkit. Alloh bersama orng2 yang bertakwa.

    tapi yg saya rasa ada yang kurang pas pernyataan sbb :

    ” Para ulama menganggap berdo’a di atas mimbar jum’at untuk penguasa muslim yang masih berhukum kepada syari’at Allah termasuk bid’ah yang diada-adakan, dan perbuatan ini belum ada pada generasi-generasi yang memimiliki keutamaan (Shahabat, Tabi’in, dan tabiut-Tabi’in –penj). Lantas, bagaimana kalau yang dido’akan itu adalah para penguasa kafir murtad? (Tentu lebih bid’ah lagi –penj)”

    saya mau bertanya siapakah ulama2 mu’tamad yang diakui yang mengatakan demikian…dan apa dalil pelarangannya?

    dan sebutkan 3 orang saja dari penguasa yang sudah dihukumi murtad? ataukan itu presiden, mentri atau MPR?

    yang saya pahami justru kita harus mendoakan Penguasa agar mendapat hidayah dan terbuka hatinya untuk melayani rakyat dngan baik dan memberi hak Alloh. agar penguasa berhenti dari melakukan kesewenang2an. agar penguasa menerapkan hukum2 Alloh di atas bumi… saya tau bahwa itu perlu waktu, dan tidak mudah. saya sangat setuju dengan Syaikh Abu bakar Ba’asyir yang mebuat buku tazkirah untuk menasihati pemerintah dan bukannya hanya mencaci dan menyalahkan.

    saya sarankan agar berhati2 berbicara masalah kafir dan murtad, karena kalau menuduh orang kafir kpd orng yg tidak berhak dikatakan kafir, maka kekafiran akan kembali kepada ornang yang menuduhnya. jangan mengatakan si fulan kafir dsb kecuali yang sudah jelas dari alqur’an dan sunnah dengan dalil yang qoth’i.

    salam kenal saudaraku
    akhukum fillah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: