Skip to content

Republik Pengkhianat

Maret 31, 2009

Penjajahan secara fisik telah berakhir seiring dengan berakhirnya agresi Belanda yang kedua. Secara fisik, rakyat Indonesia yang mayoritas muslim ini telah merasakan buah kemerdekaan. Rakyat lebih leluasa beraktifitas; tiada lagi larangan dari pihak agresor.
Namun, bagi umat islam kemerdekaan itu belum sempurna. Tujuan para pejuang islam tidak sebatas kemerdekaan fisik, tapi lebih dari itu, berlakunya syari’at islam di bumi nusantara ini….
Sebagai contoh, kita lihat Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, KH Ahmad Hassan, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, HOS Tjokroaminoto, H Agus Salim, M Natsir dan ulama-ulama lain. Mereka adalah pejuang-pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Termasuk tegaknya Syari’at Islam. Berbagai upaya mereka lakukan, mulai dari langkah-langkah politik sampai usaha-usaha sosialisasi kepada masyarakat.
Yakinlah bahwa rakyat pun setuju dengan usaha mereka. Ya, itu karena ulama (dengan sendirinya; meski tidak dilantik) adalah perwakilan ummat. Masa depan ummat adalah tanggung jawab ulama….
Namun ternyata usaha-usaha mereka dimentahkan begitu saja oleh para penguasa kita. Hal ini tentu menyebakan kekecewaan yang begitu mendalam. Saking marahnya, ada beberapa ulama yang berinisiatif memproklamasikan Negara Islam Indonesia. Tidak sedikit pula ulama yang terus menerus mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. Sekali lagi, hal ini karena pemerintah telah berkhianat kepada ummat, telah mengkhianati amanat yang dibebankan pada pundak-pundak mereka. Bahkan mereka berani menggunakan kekerasan (baik langsung maupun tidak langsung) guna menghadang siapapun yang hendak menegakkan syari’at.
Contoh paling nyata adalah tragedi pencomotan Piagam Jakarta. Sebelumnya telah disepakati bahwa Piagam Jakarta adalah jalan tengah maksimal guna mengkompromikan dua kubu yang saling bersilang pendapat dalam perumusan pembukaan UUD 1945. bahkan Maramis yang menjadi wakil Kristen menyatakan, “Setuju 200%”. Namun pada 18 Agustus 1945, kalimat “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syari’at Islam bagi Pemeluk-pemeluknya” dihapus dan diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Contoh lain dapat kita lihat pada masa orde baru yang dipimpin oleh Soeharto. Rezim ini memberlakukan program-program yang banyak bertentangan dengan syari’at Islam, semisal KB ataupun larangan berjilbab. Belum lagi ruang gerak umat Islam begitu dibatasi; banyak da’i yang tidak diijinkan berdakwah lantaran materi dakwahnya bertentangan dengan kehendak pemerintah pada waktu itu. Bahkan ada beberapa ulama yang sempat menjadi buron, status mereka relatif disamakan dengan penjahat, sehingga banyak ulama yang mengasingkan diri ke negeri seberang; Malaysia. Tidak cukup sampai di situ, Bapak Pembangunan itu juga senantiasa manghalangi kebangkitan sebuah partai Islam yang dibubarkan pada masa Bung Karno; Masyumi. Bahkan para anggota Masyumi yang hendak masuk ke kancah politik pun dihadang.
Penghadangan terhadap penegakan syari’at terus terjadi sampai saat ini. Bahkan pengkhianatan-pengkhianatan lain terus saja bermunculan, mulai dari pendiskreditan umat, penjualan aset-aset negara, janji-janji kosong, sampai korupsi yang tak kunjung reda. Maklum, Indonesia adalah Republik Pengkhianat.
Ini adalah contoh pengkhianatan terhadap umat, yang diatasnamakan pada sebuah sistem kufur; sistem demokrasi, pancasila, atau sistem-sistem lain. Dengan membaca sejarah, seharusnya umat tahu bahwa selama ini mereka berada pada sebuah sistem yang tidak sesuai dengan akidah mereka. Tapi sayang, jangankan sadar, kenyataannya umat justru banyak yang merasa kurang dalam menjalankan sistem itu dengan baik, sehingga banyak yang mengajak untuk kembali kepada azas tunggal; kepada demokrasi; kembali menghayati makna pancasila.
Bisa saja kita menyalahkan para penguasa dan orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan. Namun alangkah bijak kalau kita mengintrospeksi diri. Siapa mereka? Siapa yang mencalonkan mereka? Mereka adalah anak-anak bangsa dan yang mencalonkan mereka adalah anak-anak bangsa yang lain, termasuk kita…. Mungkin kita berusaha mungkir, “Ah, enggak , aku gak milih dia koq…”. Ya, saya akui, Anda mungkin tidak memilih mereka; pengobral janji palsu itu; koruptor-koruptor itu; para pengkhianat itu; orang-orang biadab itu…. Tapi bukankah Anda setuju dengan pemilihan itu? Pemilihan itu khan diselenggarakan atas azas demokrasi…, dan Anda menyetujuinya…. Kalau memang Anda tidak setuju dengan hasil pemilu, mengapa Anda ikut memilih? Kalau memang Anda tidak setuju dengan demokrasi, mengapa Anda ikut memilih?
Ingat, “Hanya penjahat yang mau dengan sukarela membantu perampok menjalankan misinya…”.
Lalu dengan apa kita akan melawan sistem mereka (demokrasi, pancasila, dll.)? Baiklah, mari kita kembali kepada agama kita yang telah lama kita acuhkan…; Agama Islam. Mari kita kembali berjalan dalam koridor syari’at. Mari kita lawan mereka dengan sistem yang telah Alloh turunkan kepada kita. Yakinlah bahwa segala sistem buatan makhluk nantinya akan hancur lebur…, sehingga tinggallah Agama Islam sebagai satu-satunya sistem yang tetap kokoh, yang berlaku di muka bumi.
Ingatlah bahwa Indonesia menjadi Republik Pengkhianat karena para penguasanya adalah para pengkhianat. Dan para pengkhianat itu hanya bisa berkuasa karena pilihan rakyat; persetujuan rakyat, yang setuju dengan sistem Democrazy. Dan sekali lagi, “Hanya penjahat yang mau dengan sukarela membantu perampok menjalankan misinya…”
Kepada kaum Muslimin yang terlanjur bertengger di atas, segeralah hengkang dari parlemen. Mari kita berjuang melalui Syari’at Islam; sistem Alloh…. Dan bagi rakyat yang telah sekian lama tertipu, sadarlah!! Hindari penipuan, hindari pengkhianatan, hindari pemilihan! Kembali kepada kemurnian Islam, bersama kita lawan sistem-sistem murahan…!! Alloohu Akbar!!!(AST)
Republik Pengkhianat
Penjajahan secara fisik telah berakhir seiring dengan berakhirnya agresi Belanda yang kedua. Secara fisik, rakyat Indonesia yang mayoritas muslim ini telah merasakan buah kemerdekaan. Rakyat lebih leluasa beraktifitas; tiada lagi larangan dari pihak agresor.
Namun, bagi umat islam kemerdekaan itu belum sempurna. Tujuan para pejuang islam tidak sebatas kemerdekaan fisik, tapi lebih dari itu, berlakunya syari’at islam di bumi nusantara ini….
Sebagai contoh, kita lihat Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, KH Ahmad Hassan, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, HOS Tjokroaminoto, H Agus Salim, M Natsir dan ulama-ulama lain. Mereka adalah pejuang-pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Termasuk tegaknya Syari’at Islam. Berbagai upaya mereka lakukan, mulai dari langkah-langkah politik sampai usaha-usaha sosialisasi kepada masyarakat.
Yakinlah bahwa rakyat pun setuju dengan usaha mereka. Ya, itu karena ulama (dengan sendirinya; meski tidak dilantik) adalah perwakilan ummat. Masa depan ummat adalah tanggung jawab ulama….
Namun ternyata usaha-usaha mereka dimentahkan begitu saja oleh para penguasa kita. Hal ini tentu menyebakan kekecewaan yang begitu mendalam. Saking marahnya, ada beberapa ulama yang berinisiatif memproklamasikan Negara Islam Indonesia. Tidak sedikit pula ulama yang terus menerus mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. Sekali lagi, hal ini karena pemerintah telah berkhianat kepada ummat, telah mengkhianati amanat yang dibebankan pada pundak-pundak mereka. Bahkan mereka berani menggunakan kekerasan (baik langsung maupun tidak langsung) guna menghadang siapapun yang hendak menegakkan syari’at.
Contoh paling nyata adalah tragedi pencomotan Piagam Jakarta. Sebelumnya telah disepakati bahwa Piagam Jakarta adalah jalan tengah maksimal guna mengkompromikan dua kubu yang saling bersilang pendapat dalam perumusan pembukaan UUD 1945. bahkan Maramis yang menjadi wakil Kristen menyatakan, “Setuju 200%”. Namun pada 18 Agustus 1945, kalimat “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syari’at Islam bagi Pemeluk-pemeluknya” dihapus dan diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Contoh lain dapat kita lihat pada masa orde baru yang dipimpin oleh Soeharto. Rezim ini memberlakukan program-program yang banyak bertentangan dengan syari’at Islam, semisal KB ataupun larangan berjilbab. Belum lagi ruang gerak umat Islam begitu dibatasi; banyak da’i yang tidak diijinkan berdakwah lantaran materi dakwahnya bertentangan dengan kehendak pemerintah pada waktu itu. Bahkan ada beberapa ulama yang sempat menjadi buron, status mereka relatif disamakan dengan penjahat, sehingga banyak ulama yang mengasingkan diri ke negeri seberang; Malaysia. Tidak cukup sampai di situ, Bapak Pembangunan itu juga senantiasa manghalangi kebangkitan sebuah partai Islam yang dibubarkan pada masa Bung Karno; Masyumi. Bahkan para anggota Masyumi yang hendak masuk ke kancah politik pun dihadang.
Penghadangan terhadap penegakan syari’at terus terjadi sampai saat ini. Bahkan pengkhianatan-pengkhianatan lain terus saja bermunculan, mulai dari pendiskreditan umat, penjualan aset-aset negara, janji-janji kosong, sampai korupsi yang tak kunjung reda. Maklum, Indonesia adalah Republik Pengkhianat.
Ini adalah contoh pengkhianatan terhadap umat, yang diatasnamakan pada sebuah sistem kufur; sistem demokrasi, pancasila, atau sistem-sistem lain. Dengan membaca sejarah, seharusnya umat tahu bahwa selama ini mereka berada pada sebuah sistem yang tidak sesuai dengan akidah mereka. Tapi sayang, jangankan sadar, kenyataannya umat justru banyak yang merasa kurang dalam menjalankan sistem itu dengan baik, sehingga banyak yang mengajak untuk kembali kepada azas tunggal; kepada demokrasi; kembali menghayati makna pancasila.
Bisa saja kita menyalahkan para penguasa dan orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan. Namun alangkah bijak kalau kita mengintrospeksi diri. Siapa mereka? Siapa yang mencalonkan mereka? Mereka adalah anak-anak bangsa dan yang mencalonkan mereka adalah anak-anak bangsa yang lain, termasuk kita…. Mungkin kita berusaha mungkir, “Ah, enggak , aku gak milih dia koq…”. Ya, saya akui, Anda mungkin tidak memilih mereka; pengobral janji palsu itu; koruptor-koruptor itu; para pengkhianat itu; orang-orang biadab itu…. Tapi bukankah Anda setuju dengan pemilihan itu? Pemilihan itu khan diselenggarakan atas azas demokrasi…, dan Anda menyetujuinya…. Kalau memang Anda tidak setuju dengan hasil pemilu, mengapa Anda ikut memilih? Kalau memang Anda tidak setuju dengan demokrasi, mengapa Anda ikut memilih?
Ingat, “Hanya penjahat yang mau dengan sukarela membantu perampok menjalankan misinya…”.
Lalu dengan apa kita akan melawan sistem mereka (demokrasi, pancasila, dll.)? Baiklah, mari kita kembali kepada agama kita yang telah lama kita acuhkan…; Agama Islam. Mari kita kembali berjalan dalam koridor syari’at. Mari kita lawan mereka dengan sistem yang telah Alloh turunkan kepada kita. Yakinlah bahwa segala sistem buatan makhluk nantinya akan hancur lebur…, sehingga tinggallah Agama Islam sebagai satu-satunya sistem yang tetap kokoh, yang berlaku di muka bumi.
Ingatlah bahwa Indonesia menjadi Republik Pengkhianat karena para penguasanya adalah para pengkhianat. Dan para pengkhianat itu hanya bisa berkuasa karena pilihan rakyat; persetujuan rakyat, yang setuju dengan sistem Democrazy. Dan sekali lagi, “Hanya penjahat yang mau dengan sukarela membantu perampok menjalankan misinya…”
Kepada kaum Muslimin yang terlanjur bertengger di atas, segeralah hengkang dari parlemen. Mari kita berjuang melalui Syari’at Islam; sistem Alloh…. Dan bagi rakyat yang telah sekian lama tertipu, sadarlah!! Hindari penipuan, hindari pengkhianatan, hindari pemilihan! Kembali kepada kemurnian Islam, bersama kita lawan sistem-sistem murahan…!! Alloohu Akbar!!!(AST)

4 Komentar leave one →
  1. Junior permalink
    September 29, 2009 6:03 pm

    Smntr…, mgkin Qt cm mampu sbatas m’mberi wacana…
    Namun bkn brarti qT menolak langkah riil… (bgt kn?)
    Sbnrx Islam di Indonesia px sjarah cmerlang…, tp…
    Ah…, puzing de…
    Mujahadah forever…

    (Artikel ni dah prnah trbt di: http://salmantz.wordpress.com/2009/02/10/republik-penghianat/)

  2. babeh permalink
    Agustus 5, 2009 2:12 am

    Kembali pada suri tauladan terbaik, Muhammad SAW, bangun komunitas Shahabat, hijrah, susun masyarakat yg tunduk patuh pada aturan syariat.
    Umat Islam yg berjama’ah wajib hukumnya.
    kalau TIDAK SEMUA nya
    ya jangan SEMUA nya TIDAK.
    Walau tak punya PAUS, setidaknya kita punya KAKAP, masa dari dulu cuma jadi TERI semua.

  3. Juli 5, 2009 3:18 pm

    Penjelasan riil tentu dengan menghancurkan republik pancasial ini, dan menegakkan negara Islam di atas puing-puingnya.
    Cuma, kekuatan kita tidak cukup. Selain itu umat Islam terbelenggu kebodohan kuadrat

  4. Juni 19, 2009 9:49 am

    beri aku penjelasan riel,soale,aku bosen dengan wacana, emang susah dan berisiko,tapi kl kita melangkah bersama, makan bersama, kumpul bareng,di suatu tempat aman,susun rencana bersama, akan lbh afdhol,yg penting kerahasiaan terjaga,kita bantai garuda pancasila dan penyembahnya.,Insya Alloh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: