Skip to content

Urgensi Tema “Berhukum kepada Hukum Allah”

Maret 30, 2009

Banyak orang memandang dengan sebelah mata pembicaraan seputar ‘berhukum dengan apa yang Allah turunkan’, apalagi kalau dikaitan dengan para penguasa sekarang yang notabene telah mencampakkan hukum Allah dari kehidupan nyata. Sebagian mereka menganggap pembicaraan seperti ini hanya akan memicu terjadinya fitnah (istilah mereka :fitnah Khuruj alal Hukkam), sehingga sebaiknya ditinggalkan saja. Sebagian lagi menganggap –dan di antara mereka ada orang-orang yang bersemangat dalam mengamalkan sunnah-sunnah Nabi- bahwa berbicara masalah ini tidak ada manfaatnya, atau minimal tidak begitu berguna; mereka katakan “Lebih baik kita mengkaji sunnah-sunnah Nabi dan mengamalkannya; daripada bicara yang tidak begitu manfaat seperti itu; toh kalau sudah dapat kesimpulan, kita mau apa? Nggak bisa beramal kan? Lebih baik kita membahas sesuatu yang bisa diamalkan…”.
Sebagian lagi mengatakan “Apa urusan penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah dengan kita; biarlah mereka, toh kita masih bisa sholat, puasa dan haji…” ;Islam menurutnya hanya terbatas ibadah-ibadah ritual atau terbatas pada aspek individu saja. Masih ada ucapan-ucapan lain yang menunjukkan hilangnya ghirah terhadap agama yang semakin terpuruk ini.
Selama orang muslim itu masih muslim, selama ia masih mengkhawatirkan terjadinya kerusakan dalam kehidupan dan agamanya, selama ia masih takut kalau diriya, keluarganya dan bangsanya terjatuh dalam jurang kejahiliyahan dan kekafiran, maka ia tidak akan mengingkari urgensi (pentingnya) tema seperti ini. Pengingkaran terhadap pentingnya pembahasan ini menandakan ketidakpedulian terhadap kerusakan-kerusakan besar yang menimpa agama ini, tidak adanya ghirah untuk memperjuangkan kemuliaan Islam, serta menandakan lemahnya umat dalam berpegang kepada Islam. Mengapa demikian?
Sebab, penyebab utama kerusakan-kerusakan besar yang tidak lagi bisa dihitung saat ini adalah hilangnya hukum Allah dari kehidupan!! Siapakah yang menghilangkannya? Tidak lain dan tidak bukan adalah para pemerintah yang selama ini kita sangka sebagai bagian dari umat Islam!! Biang keladi inilah yang pertama kali harus disingkirkan, apabila kita ingin memperbaiki kondisi umat. Mereka harus dibinasakan apabila kita ingin mengembalikan Islam dalam kehidupan nyata.
Agar dapat memperjelas betapa pentingnya tema ini, barangkali ada baiknya kita baca kesimpulan-kesimpulan ringkas dari pembahasan terhadap tema tersebut berikut ini:
–Para peguasa (lembaga eksekutif) negeri-negeri muslim yang menerapakan undang-undang jahiliyah ciptaan manusia sekarang ini adalah orang-orang murtad, karena merekalah yang menjalankan undang-undang itu. Tidak ada perbedaan antara presiden, para menteri dan semua jajarannya.
–Para hakim (lembaga Yudikatif) di negeri-negeri tersebut juga orang-orang murtad, karena mereka menghukumi orang yang menyimpang dari hukum ciptaan manusia dengan hukum jahiliyah yang juga produk manusia, meskipun orang itu melakukannya karena ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya.
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
–Orang-orang yang berhukum secara suka rela kepada pengadilan-pengadilan yang memakai undang-undang jahiliyah juga kafir, karena mereka berpaling dari hukum Allah.
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
–Anggota lembaga Legistatif di negeri-negeri itu tidak kurang kafir dan murtadnya dari dua golongan di atas, sebab, merekalah pencipta undang-undang itu. Semua hukum –meskipun hukum Islam- tidaklah berlaku kecuali jika ditetapkan lembaga itu!
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ
–Orang-orang yang memilih para caleg (calon legistatif) dalam pemilu juga telah keluar dari Islam. Sebab, dengan pemilihan tersebut, mereka pada hakekatnya menjadikan para caleg itu sebagai tuhan-tuhan yang merampas hak Allah untuk membuat undang-undang bagi kehidupan manusia.
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
–Para jurkam (juru kampanye) yang menghasung orang banyak untuk memilih caleg, capres, atau calon lain untuk menduduki lembaga-lembaga murtad saat ini juga telah kafir. Mereka adalah para penyeru kepada pintu-pintu Jahannam.
–Para tentara dan aparat keamanan yang perannya adalah menegakkan hukum jahiliyah itu juga kafir, sebab, dengan peran seperti ini, berarti mereka berperang di jalam thoghut. Thoghut yang dimaksud adalah thoghut hukum
الَّذِينَ آَمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
–Semua orang yang ikut membela dan menjadi antek serta loyalis kepada penguasa murtad di atas juga telah kafir, tidak peduli apakah mereka ini wartawan, informan, penulis atau orang-orang yang dianggap kiai dan ulama.

Kesimpulan-kesimpulan di atas bukan berarti pengkafiran secara ta’yin kepada setiap individu yang termasuk dalam poin-poin di atas. Ada udzur-udzur tertentu yang mungkin ada pada individu-individu itu, yang menghalangi kita untuk mengkafirkan mereka, meskipun sebab kekafiran itu ada. Orang yang bodoh dengan hakekat pemilu, misalnya, atau tidak tahu fungsi lembaga legistatif, tidak bisa dikafirkan hanya karena ia ikut-ikutan memilih seorang caleg. Begitu juga orang yang punya penafsiran sendiri dengan hakekat parlemen, sehingga ia masuk legistatif dengan tujuan menyerukan hukum Islam, atau menggagalkan sejumlah undang-undang yang kalau disahkan akan berakibat semakin besarnya pintu kerusakan, orang seperti ini tidak bisa dikafirkan, meskipun apa yang ia lakukan merupakan kesalahan besar; sebab, bagaimana mungkin orang akan menegakkan kebaikan melalui payung kekafiran? Bagaimana mungkin kita menegakkan hukum Islam melalui payung syirik demokrasi? Mustahil binti Muhall!
Begitu juga orang yang berhukum kepada pengadilan jahiliyah saat ini semata-mata karena ingin menuntut haknya yang diambil orang lain, bukan karena rela kepada undang-undangnya; orang seperti itu tidak bisa dikafirkan, apalagi ada sebagian ulama setelah melakukan proses ijtihad, membolehkan hal seperti ini….
Ringkasnya, tema tentang “berhukum kepada hukum Allah” merupakan tema yang sangat penting. Sebagaimana yang tampak pada kesimpulan-kesimpulan di atas, tema ini bukanlah tema yang bersifat furu’. Masalah ini adalah masalah iman dan kufur! Karena itu, alangkah naifnya apabila ada ulama’ yang menghalangi-halangi para pemuda untuk mengkaji masalah ini!
Ikhwah, betapa banyak orang yang jatuh ke dalam kubang kekafiran, sementara ia tidak sadar akibat keengganannya untuk mengkaji masalah yang sangat krusial ini….

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: