Skip to content

SYAHADAT La ilaha illallah

Maret 30, 2009

Syahadat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ merupakan sebuah pengakuan bahwa hanya Allahlah satu-satu-Nya Dzat Yang harus diabdi, tidak ada yang pantas diabdi selain-Nya. Orang yang mengucapkan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ berarti menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengabdi kecuali hanya kepada Allah semata; ia tidak akan tunduk kecuali hanya kepada Allah dalam segala hukum dan ketentuan-Nya; orang seperti ini disebut orang beriman.
Pengabdian kepada Allah tidak akan terwujud tatkala manusia tunduk kepada selain-Nya, tatkala masih ada undang-undang, hukum atau aturan yang bersumber dari selain Allah yang diikuti manusia. Allah baru menjadi satu-satu-Nya Dzat Yang diabdi ketika hanya hukum-Nya, syari’at-Nya, dan ketentuan-ketentuan-Nya yang berdaulat di bumi; di tengah-tengah manusia.
Dalam surat An-Nisa’ ayat 60 Allah mendustakan pengakuan orang-orang yang mengaku bahwa mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepada Rasulullah sas. (Al-Qur’an) dan apa yang diturunkan sebelumnya (kitab-kitab terdahulu), namun di saat yang sama mereka berhukum kepada thaghut, yaitu sesuatu yang diabdi selain Allah. Dengan kata lain, Allah masih menganggap mereka kafir sampai mereka meninggalkan berhukum kepada thaghut atau kafir kepadanya, dan hanya beriman kepada Allah yang wujud terpokoknya adalah berhukum hanya dengan syari’at-Nya dalam semua perkara.
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِيْنَ يَزْعُمُوْنَ أَنَّهُمْ أمَنُوْا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَ مَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيْدُوْنَ أَنْ يَتَحَاكَمُوْا إِلَى الطَّاغُوْتِ وَ قَدُ أُمِرُوْا أَنْ يَكْفُرُوْا بِهِ وَ يُرِيْدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيْدًا
Artinya:
Tidakkah kau lihat orang-orang yang mengaku-mengaku bahwa mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dan apa yang diturunkan sebelummu (kitab-kitab terdahulu), mereka ingin berhukum kepada thaghut padahal mereka diperintah untuk kufur kepadanya. Dan syaithon ingin menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh.

Dalam surat yang sama ayat 65 Allah bersumpah bahwa orang-orang itu tidaklah beriman sampai mereka berhukum kepada apa yang dibawa Muhammad sas., (hukum Allah/syari’at Islam), dan sampai mereka ridho, tidak merasa sempit dengan hukum itu.
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ حَتَّى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوْا فَيْ أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَ يُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Artinya:
Dan tidaklah, demi pemeliharamu, tidaklah mereka beriman sampai mereka berhukum kepadamu (wahai Muhammad sas.) pada apa yang mereka perselisihkan di antara mereka, kemudian mereka tidak mendapati kesempitan pada diri-diri mereka dari apa yang kau putuskan dan mereka menyerah dengan sebenar-benar penyerahan

Dalam surat At-Taubah Allah Ta’ala menganggap orang-orang ahli kitab telah menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, bukan karena sujud dan ruku’ mereka kepada para pemuka agama tersebut, bukan pula karena mereka mengadakan ibadah ritual untuk mereka, tapi hanya karena ketaatan dan kepatuhan terhadap aturan atau hukum yang mereka ciptakan dalam masalah halal-haram, lalu Allah menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang musyrik, menyekutukan Allah dengan para pendeta dan rahib itu.
إِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ وَالْمَسِيْحَ بْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا إِلَهًا وَاحِدًا سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ (التوبة :31)
Artinya:
Mereka (ahli kitab) menjadikan para pendeta dan rahib mereka, serta Al-Masih bin Maryam sebagai tuhan-tuhan selain Allah, padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk mengabdi kepada Satu Ilah (Allah), Maha Suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.(Q.S. At-Taubah: 31)

‘Adi bin Hatim –waktu itu masih seorang nasrani- datang kepada Rasulullah sas. Beliau membacakan ayat ini kepadanya. Mendengar pernyataan dalam ayat ini bahwa orang-orang ahli kitab menjadikan para pendeta dan rahib mereka tuhan-tuhan selain Allah, ‘Adi pun membantah, “Mereka tidak mengabdi kepada para pendeta dan rahib tersebut!”. Lantas Rasulullah sas mengatakan, “Benar! Mereka mengabdi kepada para rahib dan pendeta itu. Bukankah tatkala para pendeta dan rahib itu mengharamkan barang halal atau menghalalkan barang yang haram, lantas mereka ikuti?”. “Ya”, kata ‘Adi. “Itulah pengabdian mereka!”, tegas beliau.
Jelaslah bahwa tatkala orang-orang ahli kitab taat dan patuh kepada hukum yang dibuat para pendeta dan rahib, mereka berarti telah menjadikan para pemuka agama itu tuhan-tuhan selain Allah, mereka mengabdi para pemuka agama itu, yang karenanya mereka dikatakan telah melakukan kesyirikan: سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ!!
Alangkah serupanya kaum muslimin sekarang ini dengan orang-orang ahli kitab itu. Kaum muslimin telah menjadikan orang-orang yang duduk di Lembaga Legistatif, para penguasa dan pemimpim, orang-orang Barat, dan nenek moyang mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah; mereka patuh kepada hukum dan undang-undang yang mereka ciptakan, tunduk kepada tradisi hasil imajinasi nenek moyang dan patuh kepada aturan orang-orang Barat!
Ibnu Taimiyyah dan ulama-ulama lainnya pernah menfatwakan untuk memerangi kaum Tartar (padahal mereka shalat dan puasa), hanya karena mereka masih berhukum kepada kitab Ilyasiq buatan raja mereka; Jenghis Khan, sampai mereka berhukum kepada syari’at Islam dalam segala perkara.
Yasiq, sebagaimana kata Ibnu Katsir, merupakan kitab yang berisi campuran undang-undang yang bersumber dari berbagai macam agama: Kristen, Yahudi, Islam, dan lain sebagainya, dan ada juga yang berasal dari pikiran pembuatnya sendiri; Jengish Khan. Kalau kita perhatikan, undang-undang yang berlaku di hampir seluruh negara di dunia ini sangat serupa dengan Yasiq!
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah mengatakan:
فمن ترك الشرع المحكم المنزل على محمد بن عبد الله خاتم الأنبياء و تحاكم إلى غيره من الشرائع المنسوخة كفر فكيف بمن تحاكم إلى الياسا و قدمها عليه؟ من فعل ذلك كفر بإجماع المسلمين …
Artinya:
Maka barangsiapa yang meninggalkan sya’riat yang muhkam (syari’at Islam) yang diturunkan atas Muhammad bin Abdillah, penutup sekalian nabi, dan ia berhukum kepada selainnya, yaitu syari’at-syari’at yang dimansukh (syari’at-syari’at terdahulu), ia kafir. Maka, bagaimanakah dengan orang yang berhukum kepada Yasa (Yasiq) dan mendahulukannya atasnya (syari’at Islam)? Barangsiapa yang berbuat demikian ia kafir menurut kesepakatan kaum muslimin

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir berbicara tentang berhukum kepada Yasiq, lantas mengatakan:
…فمن فعل ذلك منهم فهو كافر يجب قتاله حتى يرجع إلى حكم الله ورسوله فلا يحكم سواه في قليل ولا كثير…”
Artinya:
Maka barangsiapa yang berbuat demikian (berhukum kepada Yasiq) dari kalangan mereka, maka dia kafir wajib diperangi sampai ia kembali kepada hukum Allah dan Rasul-Nya, lalu tidak berhukum kepada selainnya, sedikit atau banyak.
Syaikh Sholih bin Fauzan mengatakan:
“فمن قبل تشريعا غير تشريع اللّه فقد أشرك باللّه تعالى
Artinya:
Maka barangsiapa yang menerima tasyri’ (perundang-undangan) selain undang-undang (hukum/syari’at) Allah maka dia telah menyekutukan Allah)

Kalau kita cari dalil-dalil qoth’ie dalam Al-Qur’an serta perkataan-perkataan ulama tentang kafirnya orang yang berhukum kepada hukum yang bersumber dari selain Allah, maka sungguh terlalu banyak untuk disebutkan di sini. Maka, tidak sepantasnya kita ragu akan kekafiran dan kemurtadan orang yang tidak mau berhukum hanya kepada syari’at Allah, meskipun ia ber-KTP Islam, menjalankan sholat atau ibadah-ibadah ritual lain!

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: