Skip to content

Para Pewaris Iblis

Desember 7, 2008

Mengapa Iblis dinyatakan kafir serta dilaknat Allah sampai Hari Kiamat? Sementara itu, ketika Nabi Adam melakukan kemaksiatan (فعصى أدم … ) dengan cara memakan buah dari pohon larangan yang oleh Iblis dinamakan sebagai ‘Syajaratul Khuldi’, beliau tidak dikafirkan, bahkan diberi ampunan, dan dijadikan sebagai orang pilihan (rasul)?

Kalau kita perhatikan ayat-ayat Al-Qur’an yang bercerita tentang Nabi Adam as dan Iblis, kita dapati bahwa ketika Allah memerintahkan iblis untuk sujud kepada Adam as sesaat setelah penciptaan beliau sempurna, secara spontan iblis menolak dan bahkan mengkritik perintah itu dengan ucapannya:

أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا

Pantaskah aku sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?

Sikap menolak dan mengkritik inilah yang menyebabkan iblis digolongkan dalam kelompok orang-orang kafir ((وكان من الكافرين – البقرة .

Berbeda dengan Iblis, Nabi Adam as ketika dilarang untuk memakan buah dari pohon terlarang, beliau menerima hukum tersebut dengan sikap tunduk dan patuh; beliau sama sekali tidak menolak atau mengingkarinya. Kemaksiatan yang beliau lakukan di kemudian hari, yaitu dengan memakan buah dari pohon larangan itu, semata-mata karena kelalaian dan keterpedayaan beliau dengan bisikan iblis yang terkutuk, bukan karena sikap menolak atau mengingkari larangan Allah.

Dengan demikian, dapat dibedakan antara orang yang menolak atau bahkan mengkritik hukum Allah (perintah dan larangan-Nya) dengan orang yang melakukan kemaksiatan dengan tanpa menolak atau mengkritik hukum Allah; dengan kata lain ia masih menerima dan ridho dengan hukum Allah; kemaksiatan yang ia lakukan semata-mata karena kelemahan atau tekanan hawa nafsu yang ada pada dirinya. Vonis orang yang pertama tentu saja sama dengan vonis yang dijatuhkan pada iblis, yaitu: kafir, sedang orang yang kedua tidak masuk dalam lingkup kekafiran sampai ia menolak hukum Allah atau mengingkarinya.

Di zaman kita yang penuh berbagai macam kekafiran ini, kita dapati bahwa jenis kekafiran yang sangat besar dominasinya di dunia adalah bersikap seperti sikap iblis di atas: menolak dan mengkritik hukum Allah. Hampir di seluruh negeri-negeri di atas bumi saat ini, kekuasaan negara ada di tangan para penolak serta pengingkar hukum Allah (orang-orang sekuler); rakyatnya pun tidak berbeda dengan para penguasanya. Mereka mencampakkan hukum Allah dan sebagai gantinya memberlakukan undang-undang yang mereka buat menurut akal-akal mereka yang dipenuhi hawa nafsu dan kepentingan syahwat hewani.

Apabila kita mengajak mereka untuk menerima hukum Allah, menjadikannya sebagai satu-satunya sistem dan undang-undang dalam segala aspek kehidupan, keluarlah dari mulut-mulut mereka ucapan-ucapan yang pada hakekatnya merupakan kritikan terhadap hukum Allah; mereka mengatakan bahwa hukum Allah tidak sesuai dengan tuntutan zaman modern; hukum pidana Islam sangat kejam; poligami dan hukum waris Islam adalah hukum yang tidak adil dan merugikan kaum wanita; jilbab adalah lambang keterbelakangan, dsb…dsb…

Contoh kekafiran dalam bentuk menolak hukum Allah sangat kentara pada ucapan orang yang dianggap cendekiawan muslim (sic!) serta tokoh reformis berikut: “Yang saya tolak not only islamic state but islamic rule

Sungguh mereka telah melakukan apa yang telah dilakukan iblis: menolak dan mengkritik hukum Allah…. Mereka adalah para pewaris iblis! Apakah yang menghalangi kita untuk mengkafirkan mereka di saat kekafiran mereka jelas layaknya matahari di seperempat waktu siang?

Di negara kita yang notabene menganut sistem kufur demokrasi, tidak ada perbedaan antara lembaga legistatif, yudikatif atau eksekutif dalam kekafiran ini; semuanya bersatu padu untuk keluar dari Islam dalam bentuk menolak hukum Allah –disamping bentuk-bentuk kakafiran lainnya, seperti berloyal kepada orang-orang kafir-; mereka mencampakkan hukum Allah dari kehidupan. Sebagai gantinya, lembaga legistatif menciptakan undang-undang menurut otak-otak dan hawa nafsu mereka; lembaga eksekutif berperan sebagai pelaksana undang-undang ciptaan thoghut legistatif tersebut dan kadang diberi wewenang untuk membuat sendiri peraturan-peraturan; sementara itu, lembaga yudikatif berperan untuk mengadili orang-orang yang melanggar hukum jahiliyah itu, meskipun pelanggaran itu terjadi karena ketaatan dan ketertundukan pelakunya kepada hukum Allah.

Banyak rakyat yang hidup di negara-negara tersebut telah masuk dalam ketaatan kepada para penguasa kafir; para pemerintah yang menolak hukum Allah dan menerapkan hukum jahiliyah sebagai gantinya. Hal seperti ini bukanlah sesuatu yang aneh apabila kita tahu bahwa sejak satu abad lebih mereka menjadi korban pembodohan dan penyesatan intensif yang dilakukan orang-orang kafir salibis dan orientalis. Yang sangat aneh adalah ada sebagian orang-orang yang mengaku menganut paham salafi menganggap para penguasa thoghut kafir itu sebagai ulil amri yang wajib ditaati; selanjutnya kaum mujahidin yang berusaha merobohkan singgasana.para thoghut itu demi menegakkan hukum Allah mereka vonis sebagai teroris khawarij! Sungguh aneh binti ajaib..Orang berakal pasti yakin bahwa apa yang ada di kepala mereka bukanlah sesuatu yang orang sebut otak.

Jadilah mereka antek-antek thoghut yang paling berbahaya, sebab mereka mengenakan baju salafi ahlussunnah wal jama’ah sehingga banyak orang tertipu dengan penampilan palsu mereka. La haula wala quwwata illa billah!

14 Komentar leave one →
  1. Desember 11, 2014 1:32 pm

    iblis adalah mereka yang ingin memprofokasi masyarakat indonesia karena dianggap indonesia adalah negara kafir setelah penguasa itu jatuh iblis tadi ingin berkuasa tapi iblis tadi juga tidak menggunakan hukum allah yang digembar gemborkan tadi,,,,kemudian setelah iblis tadi sudah di atas mimbar kekuasaan maka iblis tadi berpidato,,,sesungguhnya allah menjanjikan kepada kalian dan akupun menjanjikan kepada kalian akan tetapi aku telah ingkar janji,,,aku hanya menyuruh kamu dan kamu nurut saja untuk menghancurkan negara ini,,,,,maka janganlah kamu mencelaku atas profokasi ini tapi celalah dirimu sendiri,,dan aku berlepas diri juga,,,,,

  2. Februari 16, 2010 4:02 am

    Kami tidak mengkafirkan seenak kami. Pengkafiran ini berdasar dalil-dalil dari Al-Qur’an dan as-Sunnah. siapa saja yang tidak mengkafirkan orang yang dikafirkn Al-Qur’an dan As-Sunnah maka ia juga kafir. Hati-hati. Jangan anut pemikiran murji’ah

  3. mazda permalink
    Januari 14, 2010 1:35 am

    enak saja mengkafirkan orang..

  4. Juni 19, 2009 2:05 pm

    emang susah zaman akhir,merevolusi mental feodal dan terjajah bangsa indonesia yg terdidik oleh demokras dan budaya informasi salah,menurutku kita contoh zamannya nabi musa as,benerin dulu firaunnya,insya Alloh rakyatnya nurut,kl perlu dgn kekuatan,siapkah kita,dan siapapun komandonya asal bersyariat.Mumpung belum banyak peminatnya jadi kapling surga terbuka luas bg mujahid Indonesia,tp waspadai operasi intel,pembantu thogut,wallohu alam bi showab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: