Lanjut ke konten

Jauhilah Thaghut!

Juni 4, 2010

Allah SWT berfirman:
ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت
Dan sungguh benar-benar Kami utus seorang rasul pada setiap umat, (dengan membawa seruan): ”Mengabdilah kepada Allah dan jauhilah thaghut”

Mengabdi hanya kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin dan manusia. Untuk tujuan itu pulalah, Allah mengutus para rasul serta menurunkan kitab-kitab-Nya. Manusia harus mengabdi kepada Allah serta menjauhi seluruh bentuk pengabdian kepada semua jenis thaghut.
Sekelompok orang memahami bahwa thaghut adalah kuburan-kuburan dan berhala-berhala yang disembah-sembah, pohon-pohon yang dikeramatkan, batu-batu yang dianggap angker, para dukun dan tukang ramal. Ketika menerangkan makna ’thaghut’, mereka menjelaskan bahwa kaum muslimin harus menjauhi perbuatan menyembah-nyembah dan mengagung-agungkan benda-benda itu, atau datang dan meminta tolong kepada dukung atau tukang ramal.
Ketika ada beberapa orang mengatakan bahwa pembuat hukum atau undang-undang selain Allah dan Rasul-Nya serta penguasa yang memberlakukannya juga termasuk thaghut, mulut-mulut berbisa mereka segera mengeluarkan kata-kata beracun: ’itu adalah paham khawarij, jama’ah takfir’, ’mereka adalah orang-orang dungu, jauh dari ilmu dan ulama ahlussunnah’, ’mereka adalah orang-orang bersemangat tapi bodoh, ’anjing-anjing neraka’ . . . mereka . . mereka. . .dan mereka . . .’.
Apakah makna thaghut sebenarnya?
Ahlussunnah tidak menafikan makna thaghut yang dipahami sekelompok orang di atas. Benar, bahwa batu-batu, berhala, kuburan, pohon dan benda-benda mati lainnya yang dikeramatkan dan disembah-sembah adalah thaghut. Tidak salah pula, bahwa para dukun dan tukan ramal adalah thaghut.
Namun, membatasi pengertian ’thaghut’ pada benda-benda dan sosok-sosok tersebut adalah kesalahan fatal!
قال أبو جعفر: والصواب من القول عندي في”الطاغوت”، أنه كل ذي طغيان على الله، فعبد من دونه، إما بقهر منه لمن عبده، وإما بطاعة ممن عبده له، وإنسانا كان ذلك المعبود، أو شيطانا، أو وثنا، أو صنما، أو كائنا ما كان من شيء.( تفسير الطبري – (ج 5 / ص 419( – المكتبة الشاملة ، المصدر الثاني)

Abu Ja’far (Ath-Thabari) berkata: “Menurutku, pendapat yang benar dalam soal thaghut adalah bahwa ia adalah setiap hal yang melampau batas terhadap Allah; ia disembah selain-Nya, baik penyembahnya itu dipaksa olehnya atau menyembah dengan suka rela. Thaghut yang disembah itu bisa berupa manusia, setan, patung, berhala, maupun yang lainnya”
Pada ayat فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد اشتمسك بالعروة الوثَْْقي, Ibnu Katsir mengatakan saat menanggapi pendapat Umar bin Khattab yang mengatakan bahwa thaghut adalah setan:
ومعنى قوله في الطاغوت: إنه الشيطان قوي جدًّا فإنه يشمل كل شر كان عليه أهل الجاهلية، من عبادة الأوثان والتحاكم إليها والاستنصار بها (تفسير ابن كثير – (ج 1 / ص 683) المكتبة الشاملة ، المصدر الثاني)
Artinya:
Pendapatnya bahwa thaghut adalah setan adalah pendapat yang kuat sekali. Sebab, setan sudah mencakup seluruh kejelekan yang dilakukan orang-orang jahiliyah, berupa penyembahan berhala, berhukum kepadanya, dan meminta tolong kepadanya.
Imam Mujahid mengatakan:
الطاغوت : الشيطان في صورة إنسان يتحاكمون إليه ، وهو صاحب أمرهم (تفسير ابن كثير – (ج 2 / ص 334) المكتبة الشاملة ، المصدر الثاني )
Artinya:
Thaghut adalah setan dalam bentuk manusia, yang orang-orang berhukum kepadanya, dan ia adalah pengendali urusan mereka.

Maksud perkataan Mujahid tersebut adalah bahwa setan berwujud manusia yang menjadi rujukan orang-orang dalam berhukum, dan ia diberi hak oleh mereka untuk membuat hukum yang mengatur kehidupan mereka adalah thaghut.
Dalam I’lamul Muwaqqi’ien (1/50), Ibnul Qoyyim mengatakan:
الطاغوت كل ما تجاوز به العبد حده : من معبود أو متبوع أو مطاع. فطاغوت كل قوم : من يتحاكمون إليه غير الله و رسوله، أو يعبدونه من دون الله أو يتبعونه على غير بصيرة من الله أو يطيعونه فيما لا يعلمون أنه طاعة لله.
Thaghut adalah setiap hal yang menyebabkan seorang hamba melampau batas, baik berupa sesuatu yang diabdi, diikuti atau ditaati. Thaghut suatu kaum adalah orang yang mereka jadikan rujukan hukum selain Allah dan Rasulnya, atau orang yang mereka abdi selain Allah, atau orang yang mereka ikuti tanpa petunjuk dari Allah atau orang yang mereka taati dalam hal yang tidak mereka ketahui sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

Menurut defenisi Ibnul Qoyyim di atas, thaghut memiliki tiga jenis. Pertama, ia adalah sesuatu yang dijadikan rujukan hukum selain Allah dan Rasul-Nya. Kedua, ia adalah sesuatu yang diabdi selain Allah atau diikuti tanpa petunjuk dari Allah. Ketiga, ia adalah sesuatu yang ditaati dalam hal yang tidak diketahui apakah itu dalam rangka ketaatan kepada Allah atau tidak.
Dengan demikian, setiap orang atau lembaga selain Allah dan Rasul-Nya yang menjadi rujukan dalam perundang-undangan serta mengatur manusia dengannya, atau keputusannya menjadi hukum yang harus dijalankan umat manusia meski bertentangan dengan syari’at adalah termasuk THAGHUT. Lembaga Legistatif (DPR/MPR) adalah thaghut. Para hakim yang menghukumi dengan undang-undang buatan manusia, UUD 45, KUHP, KUHAP adalah thaghut. Dengan kata lain, setiap orang yang mengadili dengan selain hukum Allah (syari’at Islam) adalah thaghut!
Di zaman sekarang ini, thaghut dalam wujud di atas tidak semuanya terang-terangan mengaku sebagai orang kafir, apalagi di negeri-negeri yang mayoritas penghuninya kaum muslimin. Banyak thaghut ber-KTP Islam, kadang shalat, kadang puasa. Mereka berdasi, makan nasi, ada juga yang sudah haji. Nama-nama mereka pun juga Islami: Yusuf, Abdurrahman, Hidayat, Amin, dll. Ada juga yang bergelar lc. Tapi mereka adalah komplotan thaghut! Perampas hak prerogatif Allah, hak membuat hukum dan perundang-perundangan yang mengatur kehidupan umat manusia!
Allah mendustakan keimanan orang-orang yang berhukum kepada thaghut. Ia mengatakan
ألم تر إلى الذين يزعمون أنهم آمنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغوت وقد أمروا أن يكفروا به ويريد الشيطان أن يضلهم ضلالا بعيدا
Artinya:
Tidakkah kaum melihat kepada orang-orang yang mengklaim bahwa mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dan apa yang diturunkan sebelummu (kitab-kitab samawi terdahulu), mereka ingin berhukum kepada thaghut, padahal mereka disuruh untuk kafir kepadanya. Dan, syaithanpun ingin menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh
Maksudnya, orang-orang yang mengaku-ngaku beriman kepada Al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya, namun masih memiliki keinginan untuk berhukum kepada thaghut yang membuat undang-undang atau hukum untuk mengatur manusia, maka dustalah pengakuan tersebut. Mereka pada hakekatnya adalah orang-orang yang kafir kepada Allah, dan syaithan ingin menyesatkan mereka jauh-jauh. Bila mereka mati dalam keadaan seperti itu dan belum bertaubat, berarti mereka mati kafir dan akan kekal di neraka selama-lamanya
Allah SWT dengan tegas menyatakan bahwa thaghut adalah wali orang-orang kafir. Berwali atau memberikan loyalitas kepadanya berarti kafir. Berhukum kepada hukumnya berarti beriman kepada thaghut. Beriman kepada thaghut sama dengan kafir kepada Allah.
الله ولي الذين آمنوا يخرجهم من الظلمات إلى النور والذين كفروا أولياءهم الطاغوت يخرجهم من النور إلى الظلمات
Artinya:
Allah adalah wali orang-orang beriman. Ia mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju kepada cahaya. Sedang orang-orang kafir, wali-wali mereka adalah thaghut. Ia mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kepada kegelapan-kegelapan.

.فمن يكفربالطاغوت و يؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقي لا نفصام لها و الله سميع عليم
Artinya:
Maka barang siapa yang kafir terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia berpegang dengan ikatan yang kuat, tidak ada keterputusan baginya dan Allah Maha Mendengar lagi Mengetahui.
Yang dimaksud ikatan yang kuat di atas adalah Islam. Ada lagi ahli tafsir yang mengatakan iman. Yang lain berpendapat kalimat لا إله إلا الله . Namun, tidak ada pertentangan antara pendapat-pendapat itu. Sebab, Islam adalah Iman dan ia adalah kalimat لا إله الا الله. Orang yang tidak kafir terhadap thaghut berarti bukan orang Islam, tidak punya keimanan dan tidak ber-لا إله إلا الله -. Dengan kata lain, ia adalah orang yang kafir kepada Allah.
* * *
Allah menvonis orang-orang ahli kitab sebagai orang-orang yang menyekutukan Allah (musyrik) karena mereka mempertuhankan para rahib dan pendeta dalam bentuk mengikuti hukum halal-haram yang ditetapkan para rahib dan pendeta itu. Allah mengatakan
إتخذوا أحبارهم و رهبانهم أربابا من دون الله و المسيح ابن مريم و ما أمروا إلا ليعبدوا إلها واحد لا إله إلا هو سبحانه عما يشركون
Artinya:
Mereka menjadikan rahib-rahib dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan juga Al-Masih bin Maryam. Dan mereka tidak diperintah kecuali agar mereka mengabdi kepada Sesembahan Yang Satu. Tidak ada tuhan selain-Nya. Maha suci Dia dari apa-apa yang mereka sekutukan.
Tidak ada perselisihan di kalangan ahli tafsir, bahwa penyembahan orang-orang ahli kitab terhadap rahib dan pendeta tersebut adalah dalam bentuk mengikuti atau mematuhi hukum atau undang-undang soal halal haram yang mereka tetapkan. Karena kepatuhan seperti inilah, orang-orang ahli kitab disebut sebagai orang-orang yang menyekutukan Allah atau musyrikin.
Fakta bahwa lembaga legistatif merupakan lembaga yang berfungsi untuk menetapkan hukum atau undang-undang untuk manusia, tidak dapat dibantah seorang pun. Wewenang untuk membuat undang-undang yang diberikan kepada lembaga ini tidak dibatasi dengan Al-Qur’an dan As-sunnah. Lembaga ini diberi hak untuk menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya atau mengharamkan apa yang keduanya halalkan. Komplotan thaghut yang berkumpul di lembaga tersebut sama persis dengan para rahib dan pendeta ahli kitab, bahkan lebih parah. Karena itu, patuh dan ridha dengan hukum dan undang-undang yang mereka tetapkan adalah kekafiran dan kesyirikan. Begitu juga dengan kepatuhan kepada hukum buatan manusia lainnya.
Demikian juga dengan orang-orang yang secara sadar mengangkat mereka sebagai anggota lembaga kufur itu, baik melalui pemilihan umum atau jalan lainya. Mengangkat orang sebagai anggota legistatif sama halnya mengangkat orang sebagai tuhan. Perbuatan itu jelas kekafiran besar.
Tentang menghalalkan apa yang Allah dan Rasul-Nya haramkan atau mengharamkan apa yang keduanya halalkan, Ibnu Taimiyah mengatakan dalam Majmu’ Fatawa (3/267):
مَتَي حَلَّلَ اْلحَرَامَ الْمُجْمَعَ عَلَيْهِ أَوْ حَرَّمَ الْحَلاَلَ الْمُجْمَعَ عَلَيْهِ أَوْ بَدَّلَ الشَّرْعَ الْمُجْمَعَ عَلَيْهِ كَانَ كَافِرًا مُرْتَدًّا بِاتِّفَاقِ اْلفُقَهَاءِ
Artinya:
Kapan orang itu menghalalkan barang haram yang sudah menjadi ijma’ (kesepakatan ulama) atau mengharamkan barang halal yang sudah menjadi ijma’, atau mengganti ajaran syari’at yang sudah menjadi ijma’, maka ia kafir murtad atas dasar kesepatakan para fuqaha`
Mereka menghalalkan kemurtadan, riba, perzinaan atas dasar suka sama suka, homoseks, dan lain sebagainya. Mereka bahkan mewajibkan loyalitas kepada pancasila, kesetiaan kepada UUD 45, paham demokrasi, nasionalisme serta berbagai jenis kekafiran lainnya. Di saat yang sama, mereka mengharamkan penegakan hukum Allah di bumi Allah.
* * *
Kekafiran para pembuat hukum dan undang-undang yang mengatur kehidupan manusia selain Allah dan Rasul-Nya, serta kekafiran negara atau orang-orang yang menghukumi dan berhukum kepada undang-undang itu, sangat jelas bagai matahari di siang bolong. Hal itu tidak tersamarkan kecuali bagi orang yang mati mata hatinya. Hal itu berdasarkan nash-nash qath’ie (yang pasti kebenarannya) dari Al-Qur’an dan hadits. Apa yang disebutkan di atas adalah sedikit dari nash-nash yang banyak tersebut.

Salafie Irja’ie

April 17, 2009

Sudah merupakan kesepakatan Ulama’ dengan berlandaskan nash-nash qath’ie yang begitu gamblang dan jelas, bahwa siapa saja yang membuat undang-undang baru yang bertentangan dengan syariat Allah, menerapkannya di kalangan manusia, atau berhukum kepadanya dengan suka rela, ia murtad keluar dari Al-Islam.
Al-Qur’an menyebutkan orang yang menetapkan undang-undang selain hukum Allah di antaranya sebagai thaghut (Q.S An-Nisa: ), syarik lillah –sekutu bagi Allah- (Q.S. Asy-Syura: ), rabb min dunillah -tuhan selain Allah- (Q.S. At-Taubah: ) orang kafir, dhalim, fasiq (Q.S Al-Maidah: ). Undang-undang itupun disebut sebagai hukum jahiliyyah (Q.S. Al-Maidah). Adapun orang yang taat dan berhukum dengannya dikatakan sebagai orang musyrik (Q.S. Al-‘An’am: ) memyembah tuhan-tuhan selain Allah (Q.S. At-Taubah: ), kafir, dhalim, fasiq (Q.S. Al-Maidah: ), sama sekali bukan orang beriman (Q.S. An-Nisa’: ). Betapa jeleknya sifat yang Allah berikan kepada orang-orang yang menciptakan hukum-hukum selain hukum Allah dan orang yang berhukum dan taat kepadanya dengan suka rela!!
Jelaslah dari nash-nash Al-Qur’an di atas, bahwa membuat undang-undang jahiliyyah, menerapkannya, dan berhukum kepadanya adalah termasuk perbuatan kufur
Semua perbuatan yang dinyatakan nash termasuk dalam barisan perbuatan kufur, menurut pendirian kaum salaf Ahlus-Sunnah Wal Jama’ah, cukup untuk menjadi sebab kekafiran dan kemurtadan pelakunya, entah hatinya masih tetap meyakini haramnya perbuatan itu atau sudah menghalalkannya. Karena itu, orang atau badan pemerintah yang membuat undang-undang jahiliyyah, menerapkannya, dan berhukum kepadanya berarti telah kafir atau murtad, baik hatinya tetap menganggap haram perbuatanya atau tidak.
Sementara itu, ada kelompok tertentu yang mengklaim beraqidah dengan aqidah salaf dan menamakan diri mereka sebagai salafi ahlussunnah wal jamaah, berpendapat bahwa menerapkan undang-undang jahiliyyah dan berhukum dengannya bukanlah penyebab kekafiran kecuali jika diikuti kekufuran hati dalam artian menghalalkan perbuatan kufur tersebut.
Berangkat dari pendirian ini, mereka tetap menganggap pemerintah di negeri-negeri kaum muslimin sekarang ini yang telah mencampakkan hukum Allah dan menggantinya dengan hukum jahiliyyah sebagai pemerintah muslim. Sebab, kata mereka, “Apa memang hati pemerintah sudah mengingkari haramnya berhukum kepada undang-undang Jahiliyyah? Siapa dan bagaimana kita tahu isi hati pemerintah?”. Mereka maksudkan, pemerintah thaghut itu tetaplah dihukumi sebagai pemerintah muslim yang wajib ditaati, meskipun mereka telah mengganti hukum Allah dengan hukum Jahiliyyah, karena kita tidak tahu isi hati mereka, apakah sudah menghalalkan perbuatan itu atau masih menganggapnya haram!
Konsekuensinya, siapa saja yang menentang, memberontak bahkan hanya sekedar mengingatkan pemerintah di tempat umum, atau berdemo menuntut hak-haknya yang dirampas, mereka anggap sebagai teroris/ khawarij, anjing-anjing neraka, sejelek-jelek makhluk di bawah lengkungan langit. La haula wala quwwata illa billah!!
Pendirian mereka ini mengingatkan kita pada kelompok sesat bernama murjiah/ irja’ie, sebuah kelompok yang tidak menganggap kafir orang yang melakukan kekufuran sampai hatinya menghalalkan kekufuran itu. Maka, sejatinya kelompok ini dinamakan salafi irja’ie, salafi yang berpikiran aliran sesat Murji’ah!

Ahlus-Sunnah, Murjiah dan Khawarij

April 17, 2009

Salah satu ciri golongan Khawarij adalah menganggap semua dosa dan maksiat adalah kekufuran, sehingga mereka mengkafirkan siapa saja yang berbuat maksiat apa pun, dan selanjutnya menghalalkan darah dan hartanya, meskipun kemaksiatan itu sebenarnya tidak sampai pada derajat kekafiran. Orang berzina, mencuri, berjudi, dan pemabuk bagi mereka adalah orang kafir murtad yang harus dibunuh. Bahkan khalifah Ali, Muawiyah dan pengikut keduanya, mereka anggap sebagai orang kafir yang wajib diperangi, karena menurut mereka, telah berhukum kepada selain yang Allah turunkan!!
Adapun Murji’ah, kelompok ini kebalikan dari kelompok Khawarij. Golongan ini tidak menganggap dosa apapun sebagai perbuatan kufur kecuali bila disertai kekufuran hati dalam bentuk pendustaan atau pengingkaran. Artinya, orang yang melakukan perbuatan dosa, seperti menyembah patung, melakukan sihir, bersujud kepada batu, menciptakan undang-undang yang menyelisihi hukum Allah, berhukum kepadanya, tetaplah bukan orang kafir atau masih dianggap orang beriman selama hatinya tetap menyakini kebenaran yang datang dari Allah. Ia baru dianggap menjadi kafir bila hatinya sudah ingkar atau mendustakan kebenaran itu. Padahal tidak ada yang tahu hati seseorang kecuali Allah. Konsekuensinya, Iblis, Fir’aun, Abu Jahal tidak boleh dianggap kafir, sebab hati nurani mereka sebenarnya yakin dengan kebenaran. Demikian juga orang yang mengaku muslim jika menyembah berhala, melakukan sihir, berloyal kepada orang kafir, berhukum kepada undang-undang buatan manusia dan melakukan perbuatan kufur lainnya, tetap tidak boleh dikafirkan, sebab siapa tahu isi hatinya? Barangkali hatinya masih percaya dengan kebenaran yang datang dari Allah.
Adapun Ahlus-Sunnah, mereka berada di antara kedua kelompok tersebut. Bagi mereka, tidak semua dosa adalah kekufuran, tidak pula sebaliknya; melainkan ada yang termasuk bentuk kekufuran, ada yang sekedar maksiat yang tidak sampai pada kekufuran. Dosa yang dinyatakan dalam nash termasuk kekufuran seperti, menyebah patung, berloyal kepada orang kafir, melakukan sihir, berhukum kepada undang-undang buatan manusia, adalah kekufuran dan menyebabkan pelakunya kafir, baik hati pelakunya masih menganggapnya haram ataupun sudah menghalalkannya. Adapun dosa besar seperti berzina, minum khomer, mencuri, membunuh, dan lain-lain bukanlah bentuk kekufuran dan tidak menyebabkan pelakunya kafir kecuali bila disertai kekufuran hati dalam bentuk mengingkari keharaman perbuatan-perbuatan tersebut.

Ahlussunnah vs Murjiah/Irja’ie

April 17, 2009

Menurut aqidah salaf ahlussunnah wal jama’ah, iman adalah keyakinan, ucapan dan perbutan. Artinya, orang baru sah menjadi orang beriman bila hatinya menyakini kebenaran yang datang dari Allah, mengungkapkannya dalam lisan dan merealisasikannya dalam perbuatan. Orang yang hanya menyakini kebenaran dalam hatinya saja seperti Abu Thalib, Hiraklius, dan orang-orang kafir lain, bahkan iblis dan Fir’aun sekalipun, mereka tetap tergolong orang-orang kafir karena tidak mengungkapkannya dalam ucapan dan merealisasikan dalam perbuatan. Demikian juga orang yang secara dhahir menampakkan keimanan, sementara hatinya kufur, ia tetaplah orang kafir, kendatipun di dunia ia dihukumi sebagai orang Islam, karena tidak ada yang tahu isi hati seseorang kecuali Allah.
Berangkat dari itu, kekafiranpun terjadi kadang karena keyakinan kufur, perkataan kufur, atau perbuatan kufur. Mana saja di antara tiga hal tersebut terjadi pada seseorang ia telah kafir. Orang yang beraqidah dengan aqidah kufur adalah orang kafir, meskipun lisan dan perbuatannya menampakkan keislaman; orang seperti ini dinamakan orang munafiq yang di dunia dihukumi sebagai orang muslim, tetapi di akherat ia kekal di neraka Jahannam. Begitu juga, orang bisa menjadi kafir hanya karena mengucapkan perkataan kufur, meskipun hatinya tetap menyakini sebaliknya dan perbuatannya sesuai dengan Al-Islam. Tidak berbeda dengan orang yang melakukan perbuatan kufur seperti membuat undang-undang jahiliyyah dan berhukum kepadanya, ia telah kafir meskipun hatinya menyakini haramnya hal itu dan ucapannya mengakui wajibnya berhukum dengan hukum Allah. Dengan kata lain, ucapan dan perbuatan kufur adalah penyebab kekafiran tersendiri tanpa tergantung apakah hatinya setuju atau tetap menyakini haramnya perbuatan tersebut.
Adapun sekte murjiah/irja’ie, mereka berpendapat bahwa iman hanyalah keyakinan hati. Artinya, orang sudah sah menjadi orang beriman cukup dengan menyakini kebenaran yang datang dari Allah dalam hati tanpa harus mengungkapkannya dalam lisan ataupun merealisasikannnya dalam perbuatan. Konsekuensinya, Fir’aun, Abu Jahal adalah orang beriman karena mereka sebenarnya telah mengakui kebenaran, meskipun ucapan dan perbuatan mereka tidak mengakuinya bahkan memusuhinya.
Bagi mereka, kekafiran hanya terjadi karena keyakinan kufur. Perbuatan dan ucapan kufur apapun meskipun telah dinyatakan sangat jelas dalam nash qath’ie, bagi mereka tetaplah bukan penyebab kekafiran kecuali jika disertai kekufuran hati. Kekufuran hati yang dimaksud adalah pendustaan atau pengingkaran, termasuk didalamnya menyakini halalnya barang yang Allah haramkan atau sebaliknya. Ini artinya, seseorang baru dianggap orang kafir bila hatinya sudah mendustakan kebenaran atau mengingkarinya, ternasuk menyakini halalnya barang yang Allah haramkan atau sebaliknya. Selama ia tetap mengakui kebenaran dalam hatinya, ia adalah orang beriman, walaupun ia sujud kepada berhala, menyembah orang mati, mengucapkan Isa adalah anak Tuhan (selamat natal!) menerapkan hukum jahiliyyah dan berhukum kepadanya serta melakukan perbuatan dan ucapan kufur lainnya!

Menyingkap Syubhat-Syubhat Kaum Neo Murji’ah

Maret 31, 2009

al-maqdisiDi saat kafirnya pemerintah yang berhukum kepada selain hukum Allah sudah sangat jelas berdasarkan nash-nash qoth’ie Al-Qur’an, ternyata masih ada banyak kelompok yang berusaha membantah hal itu dengan hujah-hujah yang lemah. Di antara kelompok-kelompok yang paling menonjol di antara mereka ada golongan mutasalifah (mengaku-ngaku salafi); mereka melontarkan berbagai macam syubhat untuk membantah murtadnya para penguasa yang memberlakukan hukum jahiliyah. Dengan berdasarkan syubhat-syubhat itu, mereka menyatakan bahwa para penguasa itu adalah penguasa muslim yang wajib ditaati, sebab merekalah ulil amri (!?!); selanjutnya kaum mujahidin yang ingin menegakkan hukum Allah, memerangi para penguasa murtad itu, mereka anggap sebagai khawarij, anjing-anjiang neraka!
Maka, muncullah Asy-Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi membantah syubhat-syubhat kelompok mutasalifah itu melalui bukunya “Imta’un Nadhr fi Kasyfi Syubhati Murji’atil Ashr”. Keterangan beliau sangat jelas, sehingga jadilah syubhat-syubhat itu laksana lalat-lalat yang ingin menutupi sinar matahari di siang bolong; tidak dapat mengurangi cahaya kebenaran sedikitpun.
Kitab Imta’un Nadhr fi Kasyfi Syubhati Murji’atil Ashr dicetak tahun 1412 H. Pada awal kitab itu, Asy-Syaikh Al-Maqdisi menjelaskan secara detail hakekat paham irja’, dari asal mulanya hingga di zaman modern saat ini, di mana paham ini telah banyak tersebar di kalangan umat Islam tanpa kita sadari. Paham Irja’ adalah paham yang menyatakan bahwa iman adalah sekedar pembenaran dalam hati atau disertai pernyataan pada lisan; sedang amal perbuatan bukan termasuk iman. Artinya, menurut paham ini, apabila orang melakukan perbuatan-perbuatan kufur, ia tidak kafir kecuali jika ia menghalalkan perbuatan itu.
Setelah itu, beliau menjelaskan kesesatan paham irja’ dengan memaparkan dalil-dalil yang sangat jelas, yang menunjukkan bahwa dengan sekedar mengucapkan perkataan kufur atau melakukan perbuatan kufur, pelaku akan dihukumi kafir, meski tidak merubah aqidahnya dan meskipun tidak menghalalkan perkataan dan perbuatan kufur tersebut. Sebab, iman adalah keyakinan, ucapan, dan perbuatan. Inilah aqidah ahlussunnah.
Beliau juga menyebutkan adanya kelompok yang dalam masalah iman berpaham sebagaimana paham ahlussunnah, yaitu iman adalah keyakinan, ucapan, dan amal perbuatan. Namun, dalam kenyataan, kelompok itu tidak mau mengkafirkan penguasa yang melakukan perbuatan kufur, yaitu berhukum kepada selain hukum Allah, kecuali apabila penguasa itu menyakini halalnya perbuatan tersebut (berhukum kepada selain hukum Allah). Sikap ini tidak lain adalah sikap kaum murji’ah. Karena itu, beliau menamai mereka sebagai “Murji’ah mu’ashirah” (Neo Murji’ah).
Selanjutkan beliau menyebutkan syubhat-syubhat murahan -yang laku keras di kalangan orang-orang awam- yang dilontarkan orang-orang Neo Murji’ah lalu membantahnya serta menjelaskan batilnya syubhat-syubhat itu. Penjelasan beliau tersebut sangat terang, sehingga pembaca “Imta’un Nadhr” yang masih diberi akal sehat akan tahu bahwa syubhat-syubhat Neo Murji’ah itu adalah kebatilan yang digunakan untuk menutup kebenaran; seakan-akan mereka ingin menutup cahaya kebenaran dengan kelamnya kebatilan.
Syubhat-syubhat Neo Murji’ah yang dibantah Asy-Syaikh Al-Maqdisi adalah sebagai berikut:
1. Ucapan mereka bahwa berhukum kepada selain hukum Allah adalah kufrun duna kufrin (كفردون كفر); mereka menisbatkan ucapan itu kepada Ibnu ‘Abbas ketika menafsirkan firman Allah “ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون” .
Beliau membantah syubhat ini dengan bantahan yang memuaskan. Dalam bantahan ini beliau menegaskan bahwa seandainya benar Ibnu ‘Abbas mengatakan hal itu, ucapan tersebut bukanlah tafsir ayat di atas, namun hanya sebagai bantahan terhadap orang-orang Khawarij yang mengkafirkan penguasa karena dosa yang tidak sampai derajat kekafiran; beliau juga menjelaskan bahwa ucapan shahabat –dalam hal ini Ibnu Abbas- bukan hujah.
Asy-Syaikh Al-Maqdisi juga memuatkan bab khusus yang menjelaskan perbedaan antara berhukum kepada selain hukum Allah dalam bentuk membuat undang-undang (jahiliyah) serta menerapkannya, dengan berhukum kepada selain hukum Allah dalam bentuk melakukan kedholiman tanpa merubah hukum Allah sedikitpun. Bentuk pertama adalah kekafiran besar, sedang yang kedua belum sampai kepada tingkat kekafiran. Para penguasa sekarang melakukan bentuk pertama, sehingga mereka kafir murtad dari Islam.
2. Umar tidak berhukum kepada apa yang Allah turunkan dalam wujud tidak menegakkan hukum potong tangan atas pencuri di zaman paceklik.
Beliau membantah syubhat ini dengan cukup membuktikan kedustaan pernyataan tersebut.
3. Nabi dan para shahabatnya pernah mengharamkan beberapa hal (yang dihalalkan) untuk diri-diri mereka.
Beliau membantah syubhat ini dengan menyatakan bahwa pengharaman yang Nabi dan para shahabat beliau lakukan hanyalah dalam artian sikap enggan untuk melakukan hal-hal yang halal, bukan membuat hukum “haram” terhadap hal-hal itu. Sikap enggan untuk melakukan hal yang halal –meskipun dengan disertai sumpah- tidak sama dengan membuat hukum “haram” untuk hal yang dalam syari’at sebenarnya halal. Yang pertama pelanggaran biasa yang wajib dibayar kifarahnya, sedang yang kedua adalah kekafiran.
4. Hajjaj membuat syari’at baru, tapi tidak dikafirkan orang salaf.
Syubhat ini beliau bantah dengan memaparkan fakta-fakta yang menunjukkan kedustaan pernyataan tersebut.
5. Ucapan mereka “Kami tidak mengkafirkan orang muslim dengan sebab dosa, selama ia tidak menghalalkannya”.
Syubhat ini beliau bantah dengan menyebutkan dalil-dalil yang sangat jelas, yang menunjukkan tidak benarnya ucapan tersebut bila dipahami secara umum, dalam artian kata “dosa” di atas juga mencakup kekafiran. Kalau dipahami secara khusus, yaitu dengan membatasi kata ”dosa” di atas pada kemaksiatan yang tidak sampai pada tingkat kekafiran, pernyataan itu dapat dibenarkan.
6. Ucapan Abdullah bin Syaqiq Al-Uqaili bahwa para shahabat tidak menganggap meninggalkan amalan apapun sebagai kekafiran selain sholat.
Syubhat ini juga beliau bantah dengan memaparkan dalil-dalil yang qoth’ie yang menunjukkan tidak benarnya ucapan tersebut. Artinya, kekafiran tidak terbatas pada meninggalkan sholat.
7. Thaghut dan para hamba mereka mengucapkan لا إله إلا الله
Syubhat ini beliau bantah dengan menjelaskan dengan dalil-dalil syar’ie bahwa orang yang mengucapkan لا إله إلا الله, namun setelah itu melakukan hal-hal yang membatalkan ucapan itu, semisal berhukum kepada selain hukum Allah, maka ia murtad dari Islam.
8. Thaghut dan para hamba mereka masih melakukan sholat.
Syubhat ini beliau bantah dengan menerangkan bahwa kemurtadan tidak terbatas pada meninggalkan sholat. Apabila orang melakukan perbuatan kufur apa saja, maka ia kafir meskipun masih sholat.
9. Firman Allah ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون hanya berlaku untuk orang-orang Yahudi secara khusus.
Syubhat ini beliau bantah dengan menunjukkan dalil-dalil tidak benarnya pendapat tersebut.
10. Firman Allah فلا و ربك لا يؤمنون حتى يحكمون فيما شجر بينهم . . . hanya untuk menafikan kesempurnaan iman, bukan pokok keimanan.
Syubhat ini juga beliau bantah dengan menunjukkan dalil-dalil tidak benarnya pendapat tersebut
11. Nabi tidak mengkafirkan dan tidak membunuh orang anshor yang mengkritik keputusan beliau dan tidak pula orang-orang munafiq dan menghalangi (kebenaran) dengan sebenar-benarnya, dan tidak pula mengkafirkan orang yang mengucapkan kepada beliau “إعدل”
Syubhat ini beliau bantah dengan menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh mereka bukan karena mereka tidak kafir, tapi karena ada penghalang-penghalang tertentu, di antaranya adalah belum adanya perintah dari Allah untuk membunuh mereka,

Di bagian akhir, Asy-Syaikh Al-Maqdisi memberi beberapa nasehat penting kepada para pencari kebenaran. Bacalah, tak ada ruginya…. Sampaikan, tak ada salahnya….

Sholat di belakang orang yang mendo’akan kebaikan untuk penguasa murtad

Maret 31, 2009

Tanya jawab bersama Asy-Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi
Naskah asli tanya jawab ini bersumber dari situs http://www.almaqdese.com. Kami telah mendownloadnya beserta ratusan karya-karya para da’i mujahid lainnya. Bagi yang berminat silakan hubungi anggota minbar dakwah. Via email: minbar_dakwah@yahoo.co.id.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh,
Syaikh Al-Fadhil,
Apa hukum sholat jum’at dan sholat-sholat lainnya di belakang para imam yang mendoakan kebaikan untuk penguasa murtad? Sungguh banyak fatwa-fatwa yang saya terima dalam masalah ini, dan di mana saya sholat jika keadaan semua atau mayoritas imam dan khatib seperti ini (membela pemerintah murtad)? Jazakumullahu khoiran.

Jawab:
Bismillah, segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kiranya tercurahkan kepada Rasulullah…
Saudaraku Al-Fadhil,
Anda tidak pantas meninggalkan sholat jama’ah kecuali di belakang orang yang menurutmu telah terbukti jatuh kepada kekafiran yang dapat mengeluarkan dari agama. Adapun apabila ia hanya terjatuh dalam kemaksiatan, kebid’ahan, dan sikap lunak (kepada penguasa), hal itu tidak boleh menyebabkan anda meninggalkan sholat jama’ah.
Tentang sikap khotib (pada khuthbah jum’at) yang mendo’akan penguasa murtad agar ia mendapat hidayah sehingga berhukum kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, atau agar ia tertunjuki kepada sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah atau tertunjuki untuk melakukan hal yang baik bagi negara dan rakyat, atau do’a-do’a lain yang tidak termasuk bentuk bantuan kepada thoghut dan undang-undang kufurnya atau termasuk bentuk memberi pertolongan kepadanya untuk mengalahkan kaum muwahhidun (orang-orang yang bertuhid); semua ini masih termasuk perbuatan-perbuatan bid’ah. –belum termasuk kekafiran-penj.
Para ulama menganggap berdo’a di atas mimbar jum’at untuk penguasa muslim yang masih berhukum kepada syari’at Allah termasuk bid’ah yang diada-adakan, dan perbuatan ini belum ada pada generasi-generasi yang memimiliki keutamaan (Shahabat, Tabi’in, dan tabiut-Tabi’in –penj). Lantas, bagaimana kalau yang dido’akan itu adalah para penguasa kafir murtad? (Tentu lebih bid’ah lagi –penj)
Hanya saja, hal tersebut tidak boleh menghalangi untuk sholat jama’ah di belakang imam-imam yang mendo’akan dengan do’a seperti ini, selama do’a itu –sebagaimana yang telah saya katakan- tidak termasuk bentuk bantuan kepada thaghut dan kesyirikannya. Tidak pantas bid’ah seperti ini, yang mana tidak sampai menyebabkan pelakunya kafir, menjadi penghalang untuk sholat berjama’ah serta meremehkannya. Ya, kecuali jika menurutmu telah terbukti dengan bukti yang pasti bahwa imam itu termasuk para loyalis thoghut serta penolongnya; (jika demikian keadaannya) tidak halal melakukan sholat dibelakangnya, karena ia tidak termasuk kaum muslimin –tidak termasuk orang-orang yang baik di antara mereka, bahkan tidak pula termasuk muslimin yang fajir (yang masih diperbolehkan sholat di belakangnya menurut ucapan ahlussunnah tentang sholat di belakang imam yang baik dan fajir).
’Ala kulli hal, kami telah menjawab pertanyaan ini di tempat-tempat lain yang engkau dapati tersebar; seperti jawaban-jawaban kami terhadap pertanyaan-pertanyaan di penjara Sawaqoh. Kami juga punya risalah yang terperinci tentang hal itu dengan judul ”Masajid Adh-Dhirar Wa Hukmu As-Shalah Khalfa Auliya At-Thoghut Wa Nuwwabihi” (Masjid Dhirar dan Hukum Sholat di belakang Loyalis Thoghut dan Para Menterinya). Semoga Allah Ta’ala memudahkan penerbitan risalah itu.
Wassalam….

Republik Pengkhianat

Maret 31, 2009

Penjajahan secara fisik telah berakhir seiring dengan berakhirnya agresi Belanda yang kedua. Secara fisik, rakyat Indonesia yang mayoritas muslim ini telah merasakan buah kemerdekaan. Rakyat lebih leluasa beraktifitas; tiada lagi larangan dari pihak agresor.
Namun, bagi umat islam kemerdekaan itu belum sempurna. Tujuan para pejuang islam tidak sebatas kemerdekaan fisik, tapi lebih dari itu, berlakunya syari’at islam di bumi nusantara ini….
Sebagai contoh, kita lihat Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, KH Ahmad Hassan, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, HOS Tjokroaminoto, H Agus Salim, M Natsir dan ulama-ulama lain. Mereka adalah pejuang-pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Termasuk tegaknya Syari’at Islam. Berbagai upaya mereka lakukan, mulai dari langkah-langkah politik sampai usaha-usaha sosialisasi kepada masyarakat.
Yakinlah bahwa rakyat pun setuju dengan usaha mereka. Ya, itu karena ulama (dengan sendirinya; meski tidak dilantik) adalah perwakilan ummat. Masa depan ummat adalah tanggung jawab ulama….
Namun ternyata usaha-usaha mereka dimentahkan begitu saja oleh para penguasa kita. Hal ini tentu menyebakan kekecewaan yang begitu mendalam. Saking marahnya, ada beberapa ulama yang berinisiatif memproklamasikan Negara Islam Indonesia. Tidak sedikit pula ulama yang terus menerus mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. Sekali lagi, hal ini karena pemerintah telah berkhianat kepada ummat, telah mengkhianati amanat yang dibebankan pada pundak-pundak mereka. Bahkan mereka berani menggunakan kekerasan (baik langsung maupun tidak langsung) guna menghadang siapapun yang hendak menegakkan syari’at.
Contoh paling nyata adalah tragedi pencomotan Piagam Jakarta. Sebelumnya telah disepakati bahwa Piagam Jakarta adalah jalan tengah maksimal guna mengkompromikan dua kubu yang saling bersilang pendapat dalam perumusan pembukaan UUD 1945. bahkan Maramis yang menjadi wakil Kristen menyatakan, “Setuju 200%”. Namun pada 18 Agustus 1945, kalimat “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syari’at Islam bagi Pemeluk-pemeluknya” dihapus dan diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Contoh lain dapat kita lihat pada masa orde baru yang dipimpin oleh Soeharto. Rezim ini memberlakukan program-program yang banyak bertentangan dengan syari’at Islam, semisal KB ataupun larangan berjilbab. Belum lagi ruang gerak umat Islam begitu dibatasi; banyak da’i yang tidak diijinkan berdakwah lantaran materi dakwahnya bertentangan dengan kehendak pemerintah pada waktu itu. Bahkan ada beberapa ulama yang sempat menjadi buron, status mereka relatif disamakan dengan penjahat, sehingga banyak ulama yang mengasingkan diri ke negeri seberang; Malaysia. Tidak cukup sampai di situ, Bapak Pembangunan itu juga senantiasa manghalangi kebangkitan sebuah partai Islam yang dibubarkan pada masa Bung Karno; Masyumi. Bahkan para anggota Masyumi yang hendak masuk ke kancah politik pun dihadang.
Penghadangan terhadap penegakan syari’at terus terjadi sampai saat ini. Bahkan pengkhianatan-pengkhianatan lain terus saja bermunculan, mulai dari pendiskreditan umat, penjualan aset-aset negara, janji-janji kosong, sampai korupsi yang tak kunjung reda. Maklum, Indonesia adalah Republik Pengkhianat.
Ini adalah contoh pengkhianatan terhadap umat, yang diatasnamakan pada sebuah sistem kufur; sistem demokrasi, pancasila, atau sistem-sistem lain. Dengan membaca sejarah, seharusnya umat tahu bahwa selama ini mereka berada pada sebuah sistem yang tidak sesuai dengan akidah mereka. Tapi sayang, jangankan sadar, kenyataannya umat justru banyak yang merasa kurang dalam menjalankan sistem itu dengan baik, sehingga banyak yang mengajak untuk kembali kepada azas tunggal; kepada demokrasi; kembali menghayati makna pancasila.
Bisa saja kita menyalahkan para penguasa dan orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan. Namun alangkah bijak kalau kita mengintrospeksi diri. Siapa mereka? Siapa yang mencalonkan mereka? Mereka adalah anak-anak bangsa dan yang mencalonkan mereka adalah anak-anak bangsa yang lain, termasuk kita…. Mungkin kita berusaha mungkir, “Ah, enggak , aku gak milih dia koq…”. Ya, saya akui, Anda mungkin tidak memilih mereka; pengobral janji palsu itu; koruptor-koruptor itu; para pengkhianat itu; orang-orang biadab itu…. Tapi bukankah Anda setuju dengan pemilihan itu? Pemilihan itu khan diselenggarakan atas azas demokrasi…, dan Anda menyetujuinya…. Kalau memang Anda tidak setuju dengan hasil pemilu, mengapa Anda ikut memilih? Kalau memang Anda tidak setuju dengan demokrasi, mengapa Anda ikut memilih?
Ingat, “Hanya penjahat yang mau dengan sukarela membantu perampok menjalankan misinya…”.
Lalu dengan apa kita akan melawan sistem mereka (demokrasi, pancasila, dll.)? Baiklah, mari kita kembali kepada agama kita yang telah lama kita acuhkan…; Agama Islam. Mari kita kembali berjalan dalam koridor syari’at. Mari kita lawan mereka dengan sistem yang telah Alloh turunkan kepada kita. Yakinlah bahwa segala sistem buatan makhluk nantinya akan hancur lebur…, sehingga tinggallah Agama Islam sebagai satu-satunya sistem yang tetap kokoh, yang berlaku di muka bumi.
Ingatlah bahwa Indonesia menjadi Republik Pengkhianat karena para penguasanya adalah para pengkhianat. Dan para pengkhianat itu hanya bisa berkuasa karena pilihan rakyat; persetujuan rakyat, yang setuju dengan sistem Democrazy. Dan sekali lagi, “Hanya penjahat yang mau dengan sukarela membantu perampok menjalankan misinya…”
Kepada kaum Muslimin yang terlanjur bertengger di atas, segeralah hengkang dari parlemen. Mari kita berjuang melalui Syari’at Islam; sistem Alloh…. Dan bagi rakyat yang telah sekian lama tertipu, sadarlah!! Hindari penipuan, hindari pengkhianatan, hindari pemilihan! Kembali kepada kemurnian Islam, bersama kita lawan sistem-sistem murahan…!! Alloohu Akbar!!!(AST)
Republik Pengkhianat
Penjajahan secara fisik telah berakhir seiring dengan berakhirnya agresi Belanda yang kedua. Secara fisik, rakyat Indonesia yang mayoritas muslim ini telah merasakan buah kemerdekaan. Rakyat lebih leluasa beraktifitas; tiada lagi larangan dari pihak agresor.
Namun, bagi umat islam kemerdekaan itu belum sempurna. Tujuan para pejuang islam tidak sebatas kemerdekaan fisik, tapi lebih dari itu, berlakunya syari’at islam di bumi nusantara ini….
Sebagai contoh, kita lihat Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, KH Ahmad Hassan, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, HOS Tjokroaminoto, H Agus Salim, M Natsir dan ulama-ulama lain. Mereka adalah pejuang-pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Termasuk tegaknya Syari’at Islam. Berbagai upaya mereka lakukan, mulai dari langkah-langkah politik sampai usaha-usaha sosialisasi kepada masyarakat.
Yakinlah bahwa rakyat pun setuju dengan usaha mereka. Ya, itu karena ulama (dengan sendirinya; meski tidak dilantik) adalah perwakilan ummat. Masa depan ummat adalah tanggung jawab ulama….
Namun ternyata usaha-usaha mereka dimentahkan begitu saja oleh para penguasa kita. Hal ini tentu menyebakan kekecewaan yang begitu mendalam. Saking marahnya, ada beberapa ulama yang berinisiatif memproklamasikan Negara Islam Indonesia. Tidak sedikit pula ulama yang terus menerus mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. Sekali lagi, hal ini karena pemerintah telah berkhianat kepada ummat, telah mengkhianati amanat yang dibebankan pada pundak-pundak mereka. Bahkan mereka berani menggunakan kekerasan (baik langsung maupun tidak langsung) guna menghadang siapapun yang hendak menegakkan syari’at.
Contoh paling nyata adalah tragedi pencomotan Piagam Jakarta. Sebelumnya telah disepakati bahwa Piagam Jakarta adalah jalan tengah maksimal guna mengkompromikan dua kubu yang saling bersilang pendapat dalam perumusan pembukaan UUD 1945. bahkan Maramis yang menjadi wakil Kristen menyatakan, “Setuju 200%”. Namun pada 18 Agustus 1945, kalimat “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syari’at Islam bagi Pemeluk-pemeluknya” dihapus dan diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Contoh lain dapat kita lihat pada masa orde baru yang dipimpin oleh Soeharto. Rezim ini memberlakukan program-program yang banyak bertentangan dengan syari’at Islam, semisal KB ataupun larangan berjilbab. Belum lagi ruang gerak umat Islam begitu dibatasi; banyak da’i yang tidak diijinkan berdakwah lantaran materi dakwahnya bertentangan dengan kehendak pemerintah pada waktu itu. Bahkan ada beberapa ulama yang sempat menjadi buron, status mereka relatif disamakan dengan penjahat, sehingga banyak ulama yang mengasingkan diri ke negeri seberang; Malaysia. Tidak cukup sampai di situ, Bapak Pembangunan itu juga senantiasa manghalangi kebangkitan sebuah partai Islam yang dibubarkan pada masa Bung Karno; Masyumi. Bahkan para anggota Masyumi yang hendak masuk ke kancah politik pun dihadang.
Penghadangan terhadap penegakan syari’at terus terjadi sampai saat ini. Bahkan pengkhianatan-pengkhianatan lain terus saja bermunculan, mulai dari pendiskreditan umat, penjualan aset-aset negara, janji-janji kosong, sampai korupsi yang tak kunjung reda. Maklum, Indonesia adalah Republik Pengkhianat.
Ini adalah contoh pengkhianatan terhadap umat, yang diatasnamakan pada sebuah sistem kufur; sistem demokrasi, pancasila, atau sistem-sistem lain. Dengan membaca sejarah, seharusnya umat tahu bahwa selama ini mereka berada pada sebuah sistem yang tidak sesuai dengan akidah mereka. Tapi sayang, jangankan sadar, kenyataannya umat justru banyak yang merasa kurang dalam menjalankan sistem itu dengan baik, sehingga banyak yang mengajak untuk kembali kepada azas tunggal; kepada demokrasi; kembali menghayati makna pancasila.
Bisa saja kita menyalahkan para penguasa dan orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan. Namun alangkah bijak kalau kita mengintrospeksi diri. Siapa mereka? Siapa yang mencalonkan mereka? Mereka adalah anak-anak bangsa dan yang mencalonkan mereka adalah anak-anak bangsa yang lain, termasuk kita…. Mungkin kita berusaha mungkir, “Ah, enggak , aku gak milih dia koq…”. Ya, saya akui, Anda mungkin tidak memilih mereka; pengobral janji palsu itu; koruptor-koruptor itu; para pengkhianat itu; orang-orang biadab itu…. Tapi bukankah Anda setuju dengan pemilihan itu? Pemilihan itu khan diselenggarakan atas azas demokrasi…, dan Anda menyetujuinya…. Kalau memang Anda tidak setuju dengan hasil pemilu, mengapa Anda ikut memilih? Kalau memang Anda tidak setuju dengan demokrasi, mengapa Anda ikut memilih?
Ingat, “Hanya penjahat yang mau dengan sukarela membantu perampok menjalankan misinya…”.
Lalu dengan apa kita akan melawan sistem mereka (demokrasi, pancasila, dll.)? Baiklah, mari kita kembali kepada agama kita yang telah lama kita acuhkan…; Agama Islam. Mari kita kembali berjalan dalam koridor syari’at. Mari kita lawan mereka dengan sistem yang telah Alloh turunkan kepada kita. Yakinlah bahwa segala sistem buatan makhluk nantinya akan hancur lebur…, sehingga tinggallah Agama Islam sebagai satu-satunya sistem yang tetap kokoh, yang berlaku di muka bumi.
Ingatlah bahwa Indonesia menjadi Republik Pengkhianat karena para penguasanya adalah para pengkhianat. Dan para pengkhianat itu hanya bisa berkuasa karena pilihan rakyat; persetujuan rakyat, yang setuju dengan sistem Democrazy. Dan sekali lagi, “Hanya penjahat yang mau dengan sukarela membantu perampok menjalankan misinya…”
Kepada kaum Muslimin yang terlanjur bertengger di atas, segeralah hengkang dari parlemen. Mari kita berjuang melalui Syari’at Islam; sistem Alloh…. Dan bagi rakyat yang telah sekian lama tertipu, sadarlah!! Hindari penipuan, hindari pengkhianatan, hindari pemilihan! Kembali kepada kemurnian Islam, bersama kita lawan sistem-sistem murahan…!! Alloohu Akbar!!!(AST)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.